Beranda Peluang Usaha Sukses Tanam Buah Tin, Pria ini Raup Untung Puluhan Juta Per Bulan

Sukses Tanam Buah Tin, Pria ini Raup Untung Puluhan Juta Per Bulan

244
0

Ada banyak cara untuk menjadi pengusaha sukses. Selain dibutuhkan ketekunan dan keuletan dalam menjalani usahanya, seorang enterpreneur harus mampu melihat peluang yang ada.

Seperti yang dilakukan seorang petani muda di Kabupaten Kerawang, Jawab Barat, di mana dirinya sukses memanfaatkan lahan yang terbatas untuk dijadikan mesin penghasil uang.

Dengan kejelian dan ketekunannya, ia mengubah sepetak tanah di belakang rumahnya menjadi kebun dan persemaian buah tin.

Meski menjalani seorang petani dengan lahan yang sempit, namun keuntungan yang di dapat tidak bisa di anggap remeh. Di mana, ia dapat meraup untuk hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.

Baca juga: 10 Langkah Untuk Membangun Usaha Baru Hingga Berhasil Sukses

Dikutip dari laman finance.detik.com, pria bernama Dede Abdul Halim (31) mengaku kebun miliknya yang dulunya lahan tandus dan semrawut itu hanya seluas 10 x 12 meter.

“Kebun ini hanya seluas 10 x 12 meter, dulunya lahan tak terurus, penuh rumput dan semrawut. Daripada mubazir, lahan bekang rumah ini, saya buat kebun dan tempat persemaian buah tin” ujar Dede Abdul Halim di rumahnya Desa Ciranggon, Kecamatan Majalaya, Kerawang (4/4/2019).

Buah tin disebutkan dalam kitab suci Al-Qur’an, selain itu juga dikenal punya banyak manfaat untuk kesehatan. Hal itu diakui Dede sehingga mendorong dirinya untuk menanam buah tersebut.

Selain itu, masih jarang orang yang menjalankan bisnis menanam buah tin, sedangkan peminatnya banyak.

“Terlebih buah tin masih prospektif karena tergolong jarang, sedangkan peminatnya banyak” ungkap Dede.

Berapa keuntungan per bulan ?

Kata Dede, setiap bulannya ia mendapat order paling sedikit seribu batah bibit buah tin. Dengan harga jual Rp 20 ribu per batang, dengan rata-rata keuntungan yang raup Dede Rp 20 juta setiap bulan.

Dede mengirimkan bibit buah tin tersebut ke beberapa kota di pulau Jawa, seperti Bandung, Purwakarta, Subang, bahkan hingga ke Lombok.

“Saya kirim bibit buah tin ke Bandung, Purwakarta, Subang, bahkan sampai ke Lombok” tutur dia.

Baca juga: Cara Menjadi Jutawan Tanpa Modal dan Sudah Terbukti Berhasil

Keuntungan yang diraih Dede makin berlipat jika pohon tin berbuah. Di pasaran, untuk harga jual buah tin cukup tinngi. Untuk satu kilogram buah masak, bisa mencapai Rp 200 hingga 300 ribu.

Bagaimana perawatan pohon buah tin ini ?

Dede mengaku, merawat pohon tin tidak merepotkan. Di mana, cuma perlu disiram dua hari sekali, dan tidak perlu perawatan yang ribet.

“Merawat pohon tin juga tidak merepotkan. Cuma perlu disiram dua hari sekali. Tidak perlu perawatan yang ribet,” katanya.

Keuntungan bisa berlipat ganda jika saja untuk siapa saja yang mau mengulik bisnis pohon tin lebih dalam lagi. Dede mengungkapkan, untuk jenis pohon tin tertentu harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah per batang.

“Selalu saja ada kolektor yang mencari pohon tin langka. Biasanya menghasilkan buah dengan warna unik, ada garis – garisnya,” kata Dede.

Bermodal dengkul dan urat petani dari ayahnya..

Foto by : finance.detik.com

Dede Abdul Halim mengatakan memulai bisnis buah tin sejak empat tahun yang lalu. Lantaran memiliki urat petani dari ayahnya, ia memutuskan tidak bekerja setelah kuliah jurusan pertanian.

“Saya memulai bisnis ini dengan modal dengkul, ngumpulin informasi dan modal dari teman-teman komunitas petani buah tin” tutur Dede.

Kemudian dirinya berkecimpung dalam jaringan komunitas petani dari wilayah Kerawang, Purwakarta, hingga Subang. Mereka kerap bertukar informasi dan selu beluk tanaman tin. Kebanyakan, kata Dede anggotanya petani pemula usia muda.

“Kami berbagi banyak hal dan saling bantu satu sama lain” tuturnya.

Setelah empat tahun berjalan, bisnis Dede mulai berkembang. Ia juga menyediakan berbagai macam jenis tin seperti Brown Turkey, Green, Jordan dan Purple Jordan.

Baca juga: Peluang Usaha Kerupuk Mentah dengan Omset Puluhan Juta

Untuk merawat tanaman-tanaman itu, Dede mempekerjakan empat pemuda, salah satunya Cahya Ningrat (19).

“Di sini saya belajar sambil bekerja supaya tidak merepotkan orang tua” kata pria lulusan SMK Jurusan Mesin itu.

Cahya mengaku harus menunda cita-citanya menjadi pegawai pabrik lantaran tak juga dipanggil kerja.

(Rh/Rb)

Sumber : finance.detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.